MASTER38 MASTER38 MASTER38 MASTER38 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 COCOL88 COCOL88 COCOL88 COCOL88 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 ZONA69 ZONA69 ZONA69 NOBAR69 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38
SLOT GACOR HARI INI SLOT GACOR HARI INI
BOSSWIN168 BOSSWIN168
BARON69
COCOL88
MAX69 MAX69 MAX69
COCOL88 COCOL88 LOGIN BARON69 RONIN86 DINASTI168 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 MABAR69 COCOL88
ronin86
bwtoto
bwtoto
bwtoto
master38
Search for:
  • Home/
  • KESEHATAN/
  • Isu Wolbachia yang Ditolak di Bali Hingga Menkes Disomasi Sebar Nyamuk Wolbachia
Nyamuk bionik Wolbachia

Isu Wolbachia yang Ditolak di Bali Hingga Menkes Disomasi Sebar Nyamuk Wolbachia

0 0
Read Time:7 Minute, 39 Second

JAKARTA – Nyamuk Wolbachia mendadak jadi sorotan publik beberapa bulan belakangan ini. Nyamuk Wolbachia sendiri merupakan salah satu program Kementerian Kesehatan dalam menekan kasus Demam Berdarah.

Baca Juga :

Anak Menkes Budi ke Mana-mana Naik Angkot: Kalo Direktur BUMN yang Lain Udah Dikasih Mobil

Secara umum, frekuensi kesakitan demam berdarh tercatat 28,45 per 100 ribu penduduk dan frekuensi kematian 0,73 per 100 ribu penduduk. Kasus tersebut didominasi oleh usia 5-14 tahun.

Namun sayangnya program ini ditentang terutama di Bali. Yuk lanjut scroll artikel selengkapnya berikut ini.

Baca Juga :

Tren Kasus COVID-19 Kembali Meningkat, Kapan Akan Mereda?

Tak hanya itu saja, Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari juga sempat menyoroti inovasi teknologi ini. 

Inovasi teknologi ini juga sempat membuat Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin disomasi oleh 20 organisasi terkait Wolbachia ini. 

Baca Juga :

Respon Menkes Usai Disomasi 20 Organisasi Terkait Nyamuk Wolbhachia

Bagaimana isu Wolbachia ini begitu ramai diperbincangkan terutama jelang akhir tahun 2023? Berikut ini rangkuman perjalanan isu Wolabachia melalui VIVAREPLAY 2023.

November 2023 Kementerian Kesehaatan diketahui mengimplementasikan teknologi nyamuk dengan bakteri wolbachia. Sebelumnya, teknologi ini diketahui telah diimplementasikan di Yogyakarta pada tahun 2016 lalu.
Melaui program ini

Kasi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu mengatakan pada tahun 2016 itu nyamuk Wolbachia disebar diseluruh wilayah Kota Yogyakarta. 

Endang membeberkan saat itu hanya daerah Kotagede yang tidak disebar Nyamuk Wolbachia. Saat itu kawasan Kotagede menjadi pembanding bagi daerah lain yang disebari nyamuk Wolbachia.

Endang menjelaskan penggunaan nyamuk Wolbachia untuk mengatasi penyakit DBD di Kota Yogyakarta ini dianggapnya telah berhasil menurunkan angka kasus DBD. Endang merinci penurunan kasus mencapai angka 77 persen. 

“Nyamuk Wolbachia terbukti menurunkan insidensi DBD 77 persen di Kota Yogyakarta. Menurunkan angka kasus mondok atau rawat inap karena DBD sebesar 86 persen,” ucap Endang, Rabu 22 November 2023 di Kantor Walikota Yogyakarta.

Jutaan nyamuk Aedes Aegypti wolbachia dikembangbiakan di Balai Besar Penelitian

Photo :

Aditya Bayu C (tvOnenews/Semarang)

Sementara itu, dalam rapat dengar pendapat dengan DPR pada 28 November 2023 lalu.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, wolbachia adalah bakteri alami yang ada di dalam tubuh beberapa serangga seperti lalat buah, kupu-kupu, ngengat.

Wolbachia tidak dapat bertahan hidup di luar sel serangga karena tidak memiliki mekanisme untuk mereplikasi dirinya sendiri tanpa bantuan serangga sebagai inangnya.

Selain tidak dapat bertahan hidup di lingkungan luar sel inang, wolbachia tidak dapat berpindah ke serangga lain atau manusia, dan wolbachia bukan merupakan rekayasa genetika oleh para ilmuwan.

”Begitu (implementasi Wolbachia) terjadi di Yogya dan kenapa kita senang karena pendekatannya ilmiah, sistematis, dan terstruktur. Bakteri wolbachia ini di nyamuk pun ada, jadi bukan sesuatu yang dibikin-bikin,” kata Menkes Budi pada Rapat Dengar Pendapat Komisi IX DPR RI terkait Implementasi Wolbachia di Gedung DPR kala itu.

Bakteri wolbachia menghambat perkembangan virus dengue di tubuh nyamuk aedes aegypti. Artinya, kemampuan nyamuk dengan wolbachia dalam menularkan virus ke manusia akan berkurang.

Jutaan nyamuk Aedes Aegypti wolbachia dikembangbiakan di Balai Besar Penelitian

Photo :

Aditya Bayu C (tvOnenews/Semarang)

Ketika nyamuk aedes aegypti dengan wolbachia berkembang biak di populasi nyamuk, maka kasus dengue akan menurun. Cara berkembang biak nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia antara lain:

Jika nyamuk jantan ber-wolbachia kawin dengan nyamuk betina ber-wolbachia, telurnya akan menetas dan menghasilkan nyamuk ber-wolbachia.

Jika nyamuk jantan tidak ber-wolbachia kawin dengan betina ber-wolbachia, telurnya akan menetas dan menghasilkan nyamuk ber-wolbachia.

Jika nyamuk jantan ber-wolbachia kawin dengan betina tidak ber-wolbachia, maka telurnya tidak akan menetas.

Mengenai proses penyebarannya, sebuah ember memuat 250 – 300 telur nyamuk, dengan angka penetasan ±90%. Jumlah nyamuk yang akan disebarkan sebesar 10?ri populasi nyamuk di daerah tersebut.

Penyebarannya dilakukan 12 kali. Artinya, ada pelepasan ± 2-3 nyamuk/meter setiap 2 minggu dan dilakukan sebanyak 12 kali.

Menkes Budi mengatakan, penelitian teknologi nyamuk ber-wolbachia ini sudah lama dilakukan. Dalam penelitiannya, peneliti menjalankan semua tahapan dan tidak memangkas (bypass) prosesnya.

Hasil studi Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue (AWED) tahun 2017-2020 menunjukkan setelah nyamuk ber-wolbachia dilepaskan, kasus dengue menurun hingga 77%.

“Sudah jelas sekali hasil studi AWED begitu wolbachia disebar dengue-nya turun. Jadi secara data, secara sains, secara fakta, sudah jelas. Itu sebabnya kemudian Kemenkes yakin kita terapkan ini (wolbachia),” ungkap Menkes Budi.

Dijelaska oleh Menkes saat itu, Kementerian Kesehatan melakukan implementasi awal program wolbachia di 5 kota, yakni Semarang, Bandung, Jakarta Barat, Bontang, Kupang, dan terakhir akan di fasilitasi pelaksanaan di Denpasar.

Pemilihan wilayah itu berdasarkan analisis insiden dengue, kepadatan penduduk, keterwakilan wilayah, dan komitmen kepala daerah.

Ditolak di Bali

 

Program pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui metode penyebaran nyamuk Wolbachia sudah dilepas ke beberapa provinsi, termasuk Bali. Sayangnya, program yang dicanangkan oleh Kemenkes ini mendapat penolakan di Pulau Dewata. 

Penjabat Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya secara tegas menolak pilot projects penyebaran 200 juta telur nyamuk Wolbachia yang rencananya akan disebar di Kota Denpasar dan Singaraja Bali.

Namun sayangnya, Mahendra Jaya tidak menjelaskan secara saintifik alasan penolakan tersebut. Dia hanya menegaskan bahwa penolakan tersebut dilakukan karena pilot projects penyebaran telur nyamuk Wolbachia ini belum disosialisasikan kepada masyarakat luas sehingga terjadi banyak penolakan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, dr. Maxi Rein Rondonuwu, turut mengomentari mengenai penolakan tersebut.

Menurutnya, sosialiasi terkait nyamuk Wolbachia di Bali memang cenderung kurang. 

Terlebih menurut Maxi, program nyamuk Wolbachia ditangani oleh salah satu donatur sehingga koordinasi antara dinas dan lapangan dinilai masih kurang. Terkait hoax yang beredar, Maxi mengatakan, Kemenkes akan terus berupaya memberi informasi yang baik dan benar.

Mantan Menkes Siti Fadilah Supari Soroti Wolbachia

Siti Fadilah Supari juga ikut berkomentar terkait dengan inovasi teknologi nyamuk wolbachia ini. Dalam channel YouTube miliknya, menyuarakan tentang program penyebaran nyamuk Wolbachia di Indonesia yang buat khawatir Ekolog.

Wanita yang pernah terjerat kasus korupsi pengadaan alat kesehatan untuk penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan ini menjelaskan bagaimana nyamuk yang dipakai merupakan nyamuk yang dapat menyebarkan demam berdarah cikungunya dan zika. 

“Nyamuk yang dipakai itu adalah aedes aegypti, aedes aegypti adalah jenis nyamuk yang dia bisa menularkan demam berdarah, dia juga bisa menularkan cikungunya. Cikungunya dan demam berdarah bisa ditularkan pada pagi sampai sore, tetapi kalau zika itu juga bisa ditularkan oleh aedes aegypti itu pada malam hari. Dengan klaim mereka, nyamuk itu sudah direkayasa genetika dan sudah disuntikan wolbachia, artinya sudah tidak bisa lagi membawa virus-virus demam berdarah dan tidak bisa membawa virus zika,” katanya.

Ia menjelaskan bagaimana Ekolog khawatir dengan apa yang terjadi saat ini, yaitu penyebaran nyamuk wolbachia yang bisa memberikan efek jangka panjang.

“Apa efek jangka panjangnya? Saya jawab belum, karena setiap penelitian dengan neynggol-nyenggol gen, nyenggol-nyenggol genetic itu errornya tidak bisa kita ketahui sekarang juga, kita bisa tahu antara dua tahun dan 10 tahun yang akan datang,” ungkap Siti Fadilah Supari.

“Kemudian yang ahli ekologi, apakah anda tahu ibu bahwa nyamuk itu bagian daripada rantai ekologi yang sudah berlangsung di dunia ini dan biasanya tuhan menciptakan seimbang,” lanjutnya.

“Kenapa nyamuk itu akan dimusnahkan dengan cara seperti itu dan direkayasa genetika yang seperti itu, karena dengan rekayasa. Karena dengan direkayasa genetika dan Wolbachia itu, mereka juga mengklaim tidak akan berkembang gitu,” tuturnya.

Menkes disomasi

Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin baru-baru ini mendapatkan somasi terkait penghentian penyebaran nyamuk Wolbhachia. Somasi yang diunggah di situs Investigasi.org dengan judul Somasi Menteri Kesehatan tentang Nyamuk Wolbachia ini dilayangkan oleh 20 organisasi.

Mereka meminta Menkes untuk segera mencabut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1341/2022 dan menghentikan (sementara) segala tindakan menyebarluaskan agen biologi penyebab penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB dan Wabah, khususnya Nyamuk yang dimodifikasi dengan bakteri Wolbachia

Terkait dengan somasi tersebut, Menkes yang ditemui awak media pada 22 Desember lalu menjelaskan bahwa Wolbachia sudah terbukti secara menurunkan insiden dengue di Yogyakarta.

Menkes juga menyebut metode ini telah diterima oleh Organisasi kesehatan dunia (WHO) sebagai metode untuk mengurangi dengue.

“Aku baru tahu (disomasi). Wolbachia ini secara ilmiah itu sudah terbukti menurunkan insiden dengue di Jogja. Dan itu udah jalan 10 tahun. Ini juga di WHO sudah diterima sebagai salah satu metode untuk bisa mengurangi dengue. Sudah masuk jurnal-jurnal ilmiah,” kata dia.

Munculnya somasi ini juga kembali mengingatkannya akan kasus penolakan vaksin COVID-19 beberapa tahun silam. Melihat adanya kasus ini, Menkes mengaku mengembalikan semuanya kepada masyarakat terkait dengan Wolbhachia ini.  

“Sama seperti vaksin, itu ada kelompok-kelompok yang menolak kan. Vaksin kan banyak kali. Dan ini kalo saya lihat yang menolak Wolbachia itu adalah sama persisi orang-orang sama yang menolak vaksin. Aku kembalikan ke masyarakat saja lebih percaya yang mana,” kata dia. 

“Kalau orang yang menolak vaksin itu somasi aku juga, kalau saya, saya tetap yakin bahwa vaksinasi covid juga dulu kita ada disomasi vaksin. Kita percaya bahwa ini bermanfaat buat masyarakat, ya kita tetap jalankan. Sama seperti wolbachia,” ujarnya. 

Di sisi lain, Menkes juga akan terus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait modifikasi nyamuk Wolbachia ini.  

“Yang akan kita lakukan adalah menjelaskan secara lebih saintifik ke masyarakat untuk memahami. Sama persis seperti dulu vaksinasi penolakannya banyak, disomasi, dibilang ini sindikasi internasional, di vaksin ada chip, nah ini kan kelompok yang sama yang menyerang wolbachia ini,” ucapnya.

Halaman Selanjutnya

“Nyamuk Wolbachia terbukti menurunkan insidensi DBD 77 persen di Kota Yogyakarta. Menurunkan angka kasus mondok atau rawat inap karena DBD sebesar 86 persen,” ucap Endang, Rabu 22 November 2023 di Kantor Walikota Yogyakarta.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
COCOL88 GACOR77 RECEH88 NGASO77 TANGO77 PASUKAN88 MEWAHBET MANTUL138 EPICWIN138 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21